Jumat, 11 Maret 2011

laporan parasitologi lenggkap

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Parasit adalah ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup (organisme) yang hidupnya menumpang (bergantung) pada makhluk hidup lainnya. Organisme yang menumpang itu disebut parasit.
Organisme yang ditumpangi biasanya lebih besar daripada parasit itu sendiri, disebut host atau hospes atau tuan rumah, yang member makanan dan perlindungan secara fisik kepada parasit.
Parasitologi kedokteran adalah ilmu yang mempelajari hewan yang hidup parasitis pada manusia.
Dikenal pula istilah endoparasit dan ectoparasit.
Endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh manusia, misalnya di dalam darah, otot, dan usus, contohnya Plasmodium sp.
Ectoparasit adalah parasit yang hidup menempel pada bagian luar kulit dan kadang-kadang masuk ke dalam jaringan di bawah kulit, misalnya, Sarcoptes scaibei.
Obligate parasit adalah parasit yang tidak bisa hidup bila tidak menumpang pada host.
Fakultatif parasit adalah parasit yang pada keadaan tertentu dapat hidup sendiri di alam, tidak menumpang pada host, misalnya Strongyloides stercoralis (cacing).
Hubungan parasit dengan host dan menimbulkan gejala penyakit disebut infestasi yang ada pada mikrobiologi disebut infeksi.Penyakit yang disebabkan oleh parasit disebut parasitosis.

B. SUMBER PENULARAN PENYAKIT PARASITOSIS
Sebagai sumber penularan parasitosis dapat berupa :
1. Tanah dan air yang terkontaminasi
2. Makanan yang mengandung parasit
3. Antropoda pengisap darah
4. Binatang peliharaan atau binatang liar yang mengandung parasit
5. Penderita parasitosis beserta barang-barang atau lingkungannya yang telah terkontaminasi penderita
6. Penderitanya dapat menjadi sumber infestasi bagi dirinya sendiri (autoinfeksi)
Tanah yang dikotori feaces manusia merupakan sumber penularan penyakit yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides, trichuris trichiura, Necator americanus, Ancylostoma duodenale dan Stongyloides stercoralis.
Air dapat mengandung kista amoeba dan telur Taenia solium. Ikan air tawar dapat mengandung Diphyllobothrium latum; daging babi dapat mengandung Taenia solium dan Trichinella spiralis, daging sapi dapat mengandung Taenia saginata dan daging kambing dapat mengandung Fasciola hepatica.
Arthropoda penghisap darah dapat memindahkan parasit penyebab penyakit malaria, leismania, cacing filarial, dan trypanosome. Anjing merupakan sumber infestasi dari Echinococcus granulosus dan Toxocara canis sedangkan binatang herbivore sebagai sumber parasit Trichostrongylus sp. Penderita merupakan sumber penularan dari beberapa jenis parasit.
C. PINTU MASUKNYA PARASIT KE DALAM TUBUH
Pintu masuknya endoparasit umumnya adalah melalui mulut. Misalnya protozoa usus, Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Enterobius vermicularis, Hymenolepsis nana, Trichostrongylus sp., Trichinella spiralis, Taenia solium, Taenia saginata, Diphyllobothrium latum, dan Fasciola hepatica, masuk ke dalam tubuh manusia bersama makanan yang terkontaminasi parasit, berupa kista, telur, larva ataupun parasit dewasanya.
Beberapa cacing seperti Necator americanus, Ankylostoma duodenale, strongyloides sp. Dan Schistosoma sp., larvanya dari tanah masuk kedalam tubuh, menembus kulit yang utuh.
Parasit-parasit yang siklus hidupnya memerlukan arthropoda pengisap darah sebagai hostnya, dimasukkan ke tubuh manusia melalui tusukan di kulit waktu arthropoda menghisap darah. Parasitnya antara lain Plasmodiumsp., Wucheria bancrofti, Trypanosoma gambiense, dan Leishmania donovani.
Parasit juga bisa masuk kedalam tubuh manusia melalui :
1. Inhalasi, misalnya telur cacing Enterobius vermicularis
2. Hubungan sex, misalnya Trichomonas vaginalis.
3. Placenta, misalnya Toxoplasma gondi




















BAB II
PEMBAHASAN
I. NEMATODA
Nematoda (cacing bulat) mempunyai bentuk bulat panjang dan tidak bersegmen. Mempunyai jenis kelamin jantan dan betina. Cacing jantan leih kecil daripada yang betina dan melengkung kearah ventral. Ukurannya bervariasi dari beberapa millimeter (misalnya: Trychinella spiralis) sampai 35 (tiga puluh lima) cm (misalnya: Ascaris lumbricoides) bahkan ada yang mendekati 1 (satu) meter (misalnya : Dracunculus medinensis). Bentuk telurnya bermacam-macam bergantung jenis cacingnya.
Nematoda mempunyai jumlah species yang terbesar di antara cacing-cacing yang hidup sebagai parasit. Cacing-cacing ini berbeda-beda dalam habitat, daur hidup dan hubungan hospes-parasit (host-parasite relationship).
Morfologi dan daur hidupnya beragam; ada yang panjangnya beberapa millimeter dan ada pula yang melebihi satu meter. Cacing ini mempunyai kepala, ekor, dinding, dan rongga badan dan alat-alat gerak lain yang agak lengkap. Biasanya system pencernaan, ekskresi dan reproduksi terpisah. Pada umumnya cacing bertelur, tetapi ada juga yang vivipar dan yang berkembang biak secara parthenogenesis. Cacing dewasa tidak bertambah banyak di dalam badan manusia. Seekor cacing betina dapat mengeluarkan telur atau larva sebanyak 20 sampai 200.000 butir sehari. Telur atau larva ini dikeluarkan dari badan hospes dengan tinja. Larva biasanya mengalami pertumbuhan dengan pergantian kulit. Bentuk infektif dapat memasuki badan manusia dengan berbagai cara; ada yang masuk secara aktif, ada pula yang tertelan atau dimasukkan oleh vector melalui gigitan. Hampir semua nematoda mempunyai daur hidup yang telah diketahui dengan pasti.


A. NEMATODA USUS
Praktikum I
Tanggal/ hari : Kamis, 19 Maret 2009
Judul : Pemeriksaan Telur Cacing Pada Feaces
Tujuan : Untuk melihat dan mengetahui struktur telur cacing
Dasar Teori :
• Ascaris lumbricoides
Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Penyakit yang disebakannya disebut askariasis
Parasit ini ditemukan kosmopolit. Survey yang dilakukan di Indonesia antara tahun 1970-1980 menunjukkan pada umumnya prevalensi 70% atau lebih.
Cacing jantan berukuran 10-30 cm, ekor melingkar, berspikula, sedangkan betina 22-35 cm, ring kopulasi pada 1/3 badan anterior, ekor berujung lancip. Cacing muda, lebih kecil daripada cacing dewasa; tanpa adanya cephalic alae menyebabkannya berbeda dengan Toxocara. stadium dewasa hidup dirongga usus muda. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000 – 200.000 butir sehari; terdiri dari telur yang tidak dibuahi.
Menular melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi telurnya. Telur yang dibuahi, besarnya kurang lebih 60 x 45 mikron dan yang tidak dibuahi 90 x 40 mikron, dinding dalam : hialin tipis, dinding luar: albuminoid kasar berwarna kuning tengguli. Berisi granula – granula kasar. Kortikasi, dinding luar : albuminoid kasar dekortikasi, tanpa dinding luar. Telur stadium di buahi dinding dalam : hialin tebal, dinding luar : albuminoid kasar berwarna kuning tengguli, satu sel (pada tinja baru) morula dan larva infektif (pada tnja lama).
Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh manusia menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke dalam esophagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva beubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperluka waktu kurang lebih 2 bulan.
• Trichuris trichiura
Manusia merupakan hospes cacing ini. Penyakit yang disebabkannya disebut trikuriasis
Cacing ini bersifat kosmopolit; terutama ditemukan di daerah panas dan lembab, seperti di Indonesia
Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, ekor lurus berujung tumpul. sedangkan cacing jantan kira-kira 4 cm, ekor melingkar. Cacing dewasa bentuk seperti cambuk 3/5 again anterior halus, 2/5 bagian posterior gemuk. Cacing dewasa hidup di kolon ascendens dan sekum dengan bagian anteriornya yang seperti cambuk masuk ke dalam mukosa usus. Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur setiap hari antara 3000 – 10.000 butir.
Telur berukuran 50 – 54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3 sampai 6 minggu dlam lingkungan yang sesuai, yaitu pada tanah yang lembab dan tempat yang teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif. Cara infeksi langsung bila secara kebetulan hospes menelan telur matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk kedalam usus halus. Sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon, terutama sekum. Jadi cacing ini tidak mempunyai siklus paru. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina meletakkan telur kira-kira 30 – 90 hari.
Prinsip kerja : Dimana metode ini menggunakan cara yang langsung yaitu dengan mensuspensikan feaces dengan salah satu larutan yang telah disediakan.
Alat :

- Lidi
- Mikroskop
- Objeck glass
- Pipet tetes
- Handskun
- Deck glass
- Masker


Bahan :

- Feaces
- Lugol
- Eosin
- NaCl


Cara kerja :
1. Siapkan alat dan bahan
2. Tetesi objeck glass dengan larutan yang akan digunakan (lugol, eosin atau NaCl 0,9%)
3. Ambil sampel dengan menggunakan lidi, kemudian homogenkan sampel dengan salah satu larutan yang digunakan.
4. Setelah di homogenkan tutup preparat dengan deck glass
5. Kemudian letakkan preparat pada mikroskop dan amati dengan menggunakan pembesaran obejektif 10X atau 40X
6. Catat hasil pengamatan.
Hasil pengamatan :
Dari hasil pengamatan yang di lakukan ditemukan telur Ascaris lumbricoides dan telur Trichuris trichiura.




Telur Trichuris Trichiura telur Ascaris lumbricoides
Kesimpulan :
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan telur cacing pada feaces anak-anak ditemukan tipe telur cacing Trichuris trichiura yang berisi morula dan telur Ascaris lumbricoides fertile.









PRAKTIKUM II
Tanggal/ hari : Kamis, 02 April 2009
Judul : Pemeriksaan Telur Cacing Pada Feaces
Tujuan : Untuk mengamati morfologi dari telur cacing yang ditemukan
Dasar Teori :

• Ascaris lumbricoides
Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Penyakit yang disebakannya disebut askariasis
Parasit ini ditemukan kosmopolit. Survey yang dilakukan di Indonesia antara tahun 1970-1980 menunjukkan pada umumnya prevalensi 70% atau lebih.
Cacing jantan berukuran 15-31 cm, ekor melingkar, berspikula, sedangkan betina 20-35 cm, ring kopulasi pada 1/3 badan anterior, ekor berujung lancip. Cacing muda, lebih kecil daripada cacing dewasa; tanpa adanya cephalic alae menyebabkannya berbeda dengan Toxocara. stadium dewasa hidup dirongga usus muda. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000 – 200.000 butir sehari; terdiri dari telur yang tidak dibuahi.
Menular melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi telurnya. Telur yang dibuahi, besarnya kurang lebih 60 x 45 mikron dan yang tidak dibuahi 90 x 40 mikron, dinding dalam : hialin tipis, dinding luar: albuminoid kasar berwarna kuning tengguli. Berisi granula – granula kasar. Kortikasi, dinding luar : albuminoid kasar dekortikasi, tanpa dinding luar. Telur stadium di buahi dinding dalam : hialin tebal, dinding luar : albuminoid kasar berwarna kuning tengguli, satu sel (pada tinja baru) morula dan larva infektif (pada tnja lama).
Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh manusia menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke dalam esophagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva beubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperluka waktu kurang lebih 2 bulan
Alat :

- Lidi
- Mikroskop
- Objeck glass
- Pipet tetes
- Handskun
- Deck glass

Bahan :

- Feaces
- Lugol
- Eosin
- NaCl


Cara kerja :
1. Siapkan alat dan bahan
2. Tetesi objeck glass dengan larutan yang akan digunakan (lugol, eosin atau NaCl 0,9%)
3. Ambil sampel dengan menggunakan lidi, kemudian homogenkan sampel dengan salah satu larutan yang digunakan.
4. Setelah di homogenkan tutup preparat dengan deck glass
5. Kemudian letakkan preparat pada mikroskop dan amati dengan menggunakan pembesaran obejektif 10X atau 40X
6. Catat hasil pengamatan.




hasil pengamatan : ditemukan telur cacing Ascaris lumbricoides yang tidak dibuahi corticated.
Kesimpulan : dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan telur cacing pada feaces anak-anak ditemukan tipe telur Ascaris lumbricoides tipe corticated.




PRAKTIKUM III
Tanggal/ hari : Kamis, 16 April 2009
Judul : Pemeriksaan Telur Cacing dengan cara sedimentasi
Tujuan : Untuk memeriksa telur cacing pada sayur
Dasar Teori :
Nematoda usus yang hidup didalam tubuh manusia akan keluar bersama feaces dan akan berbaur didalam tanah dan akan berkembang di dalamnya salah satu fase perkembangbiakannya berupa telur, telur nematoda kadang tertiup angin bersama debu sehingga menempel pada sayuran atau menempel pada bagian sayuran yang tidak dicuci.
Salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya telur tersebut pada sayuran adalah dengan cara sedimentasi, yaitu sediaan atau endapan yang terjadi pada air cucian sayur setelah dicentrifuge diambil dengan pipet, kemudian diletakkan diatas objek glass lalu ditutup dengan deck glass, dandiperiksa dibawah mikroskop,untuk melihat ada tidaknya telur pada sayur yang diperiksa.
Prinsip kerja : Massa aquades lebih ringan dibandingkan dengan massa telur cacing, sehingga terjadi endapan
Alat :

• Tabung centrifuge
• Objek glass
• Deck glass
• Pipet tetes
• Mikroskop
• Beaker gelas
• centrifuge

Bahan :
• Sayuran
• Aquadest

Cara kerja :
1. Cuci sayuran dengan air
2. Air cucian dimasukkan kedalam tabung centrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm
3. Buang supernatant, lalu kocok endapannya
4. Ambil endapan dengan pipet tetes, letakkan diatas objek glass
5. Tutup dengan menggunakan deck glass, lalu periksa dengan mikroskop

Hasil pengamatan :
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, tidak ditemukannya telur cacing pada sampel sayuran.

Kesimpulan :
Dapat disimpulkan bahwa tidak ditemukannya telur cacing.



PRAKTIKUM IV
Tanggal/ hari : Kamis, 23 April 2009
Judul : Pemeriksaan Telur Cacing dengan cara Flotasi
Tujuan : Untuk memeriksa telur cacing dengan cara Flotasi
Dasar Teori :
• Ascaris lumbricoides
Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Penyakit yang disebakannya disebut askariasis
Parasit ini ditemukan kosmopolit. Survey yang dilakukan di Indonesia antara tahun 1970-1980 menunjukkan pada umumnya prevalensi 70% atau lebih.
Cacing jantan berukuran 10-30 cm, ekor melingkar, berspikula, sedangkan betina 22-35 cm, ring kopulasi pada 1/3 badan anterior, ekor berujung lancip. Cacing muda, lebih kecil daripada cacing dewasa; tanpa adanya cephalic alae menyebabkannya berbeda dengan Toxocara. stadium dewasa hidup dirongga usus muda. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000 – 200.000 butir sehari; terdiri dari telur yang tidak dibuahi.
Menular melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi telurnya. Telur yang dibuahi, besarnya kurang lebih 60 x 45 mikron dan yang tidak dibuahi 90 x 40 mikron, dinding dalam : hialin tipis, dinding luar: albuminoid kasar berwarna kuning tengguli. Berisi granula – granula kasar. Kortikasi, dinding luar : albuminoid kasar dekortikasi, tanpa dinding luar. Telur stadium di buahi dinding dalam : hialin tebal, dinding luar : albuminoid kasar berwarna kuning tengguli, satu sel (pada tinja baru) morula dan larva infektif (pada tnja lama).
Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh manusia menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke dalam esophagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva beubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperluka waktu kurang lebih 2 bulan.
• Trichuris trichiura
Manusia merupakan hospes cacing ini. Penyakit yang disebabkannya disebut trikuriasis
Cacing ini bersifat kosmopolit; terutama ditemukan di daerah panas dan lembab, seperti di Indonesia
Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, ekor lurus berujung tumpul. sedangkan cacing jantan kira-kira 4 cm, ekor melingkar. Cacing dewasa bentuk seperti cambuk 3/5 again anterior halus, 2/5 bagian posterior gemuk. Cacing dewasa hidup di kolon ascendens dan sekum dengan bagian anteriornya yang seperti cambuk masuk ke dalam mukosa usus. Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur setiap hari antara 3000 – 10.000 butir.
Telur berukuran 50 – 54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3 sampai 6 minggu dlam lingkungan yang sesuai, yaitu pada tanah yang lembab dan tempat yang teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif. Cara infeksi langsung bila secara kebetulan hospes menelan telur matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk kedalam usus halus. Sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon, terutama sekum. Jadi cacing ini tidak mempunyai siklus paru. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina meletakkan telur kira-kira 30 – 90 hari.
Metode pemeriksaan telur cacing :
Pemeriksaan telur cacing dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu cara langsung dan tidak langsung. Cara tidak langsung mempunyai 2 metode yaitu metode sedimentasi dan metode flotasi. Pada pemeriksaan telur cacing ini digunakan metode Flotasi. Pada metode ini, sampel ditambahkan Nacl jenuh, lalu aduk sampel dan Nacl terbsebut, setelah di aduk keluarkan serat-serat feaces. Larutan tersebut dimasukkan pada tabung reaksi sampai penuh dan jika sudah penuh tutup tabung tersebut menggunakan deck glass selama 30 menit.
Alat :

• Tabung reaksi
• Beaker glass
• Batang pengaduk
• Miroskop
• Objeck glass
• Deck glass
• Rak tabung

Bahan :
• Nacl jenuh
• Feaces
Prinsip kerja :
Prinsip dari metode ini sendiri adalah dengan membuat NaCl jenuh, dimana massa dari NaCl jenuh ini lebih berat dibandingkan dengan massa telur cacing, sehingga telur cacing akan terangkat naik dan menempel pada deck glass.
Cara kerja :
1. Siapkan alat dan bahan
2. Feaces dicampur dengan NaCl jenuh dalam beaker glass
3. Aduk perlahan-lahan
4. Kemudian serat feaces di buang, jika suspensi tinja sudah jernih di tuang dalam tabung reaksi sampai penuh
5. Kemudian tabung reaksi di tutup dengan deck glass
6. Diamkan selama 30 menit
7. Objeck glass harus bersih dan bebas lemak
8. Setelah 30 menit, deck glass diletakkan diatas objeck glass
9. Amati dibawah mikroskop dengan menggunakan lensa objektif 10X
Hasil Pengamatan :
Dari hasil pengamatan telah ditemukan beberapa jenis telur cacing Ascaris lumbricoides dan telur cacing Trichuris trichiura.


Gambar 1 Gambar 2





Gambar 3
Keterangan Gambar :
Gambar 1 : Telur Ascaris lumbricoides tipe decorticated tanpa lapisan albuminoid.
Gambar 2 : Telur Ascaris lumbricoides tipe corticated, dinding dalam hialin tebal, dinding luar albuminoid kasar
Gambar 3 : Telur Trichuris trichiura
Kesimpulan :
Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa pada pemeriksaan feaces dengan metode flotasi ditemukan telur cacing Ascaris lumbricoides tipe corticated dan decorticated, telur cacing Trichuris trichiura.










PRAKTIKUM V
Tanggal/ hari : Kamis, 30 April 2009
Judul : Mengenali cacing dewasa Nematoda usus melalui gambar
Tujuan : Agar mahasiswa dapat mengetahui bentuk, morfologi dan siklus hidup dari cacing Nematoda usus
Dasar Teori :
1. Ascaris lumbricoides
Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Penyakit yang disebakannya disebut askariasis
Parasit ini ditemukan kosmopolit. Survey yang dilakukan di Indonesia antara tahun 1970-1980 menunjukkan pada umumnya prevalensi 70% atau lebih.
Cacing jantan berukuran 15-31 cm, ekor melingkar, berspikula, sedangkan betina 20-35 cm, ring kopulasi pada 1/3 badan anterior, ekor berujung lancip. Cacing muda, lebih kecil daripada cacing dewasa; tanpa adanya cephalic alae menyebabkannya berbeda dengan Toxocara. stadium dewasa hidup dirongga usus muda. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000 – 200.000 butir sehari; terdiri dari telur yang tidak dibuahi.
Menular melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi telurnya. Telur yang dibuahi, besarnya kurang lebih 60 x 45 mikron dan yang tidak dibuahi 90 x 40 mikron, dinding dalam : hialin tipis, dinding luar: albuminoid kasar berwarna kuning tengguli. Berisi granula – granula kasar. Kortikasi, dinding luar : albuminoid kasar dekortikasi, tanpa dinding luar. Telur stadium di buahi dinding dalam : hialin tebal, dinding luar : albuminoid kasar berwarna kuning tengguli, satu sel (pada tinja baru) morula dan larva infektif (pada tnja lama).
Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh manusia menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke dalam esophagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva beubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperluka waktu kurang lebih 2 bulan.










Gambar Ascaris lumbricoides
Keterangan gambar :
a. Cacing dewasa betina, panjang ± 20-35 cm, ring kopulasi pada 1/3 badan anterior, ekor berujung lancip
b. Cacing dewasa jantan, panjang ± 15-31 cm, ekor melingkar, berspikula
c. Cacing muda, lebih kecil daripada cacing dewasa; tanpa adanya Cephalic alae, menyebabkannya berbeda dengan Toxocara.

2. Trichuris trichiura
Manusia merupakan hospes cacing ini. Penyakit yang disebabkannya disebut trikuriasis
Cacing ini bersifat kosmopolit; terutama ditemukan di daerah panas dan lembab, seperti di Indonesia
Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, ekor lurus berujung tumpul. sedangkan cacing jantan kira-kira 4 cm, ekor melingkar. Cacing dewasa bentuk seperti cambuk 3/5 again anterior halus, 2/5 bagian posterior gemuk. Cacing dewasa hidup di kolon ascendens dan sekum dengan bagian anteriornya yang seperti cambuk masuk ke dalam mukosa usus. Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur setiap hari antara 3000 – 10.000 butir.
Telur berukuran 50 – 54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3 sampai 6 minggu dlam lingkungan yang sesuai, yaitu pada tanah yang lembab dan tempat yang teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif. Cara infeksi langsung bila secara kebetulan hospes menelan telur matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk kedalam usus halus. Sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon, terutama sekum. Jadi cacing ini tidak mempunyai siklus paru. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina meletakkan telur kira-kira 30 – 90 hari








Gambar Trichuris trichiura
Keterangan gambar :
Cacing dewasa bentuk seperti cambuk 3/5 bagian anterior halus, 2/5 bagian posterior gemuk. Betina, panjang ± 5 cm, ekor lurus berujung tumpul. Jantan, panjang ± 4 cm, ekor melingkar.

3. Ancylostoma duodenale dan Necator americanus
Kedua parasit ini diberi nama ”cacing tambang” karena pada zaman dahulu cacing ini ditemukan di Eropa pada pekerja pertambangan, yang belum mempunyai fasilitas sanitasi yang memadai.
Hospes parasit ini adalah manusia; cacing ini menyebabkan nekatoriasis dan ankilostomiasis.
Penyebaran cacing ini di seluruh daerah khatulistiwa dan ditempat lain dengan keadaan yang sesuai, misalnya di daerah pertambangan dan perkebunan. Prevalensi di Indonesia tinggi, terutama di daerah pedesaan, sekitar 40%.
Cacing dewasa hidup di rongga usus halus, dengan mulut yang besar melekat pada mukosa dinding usus. Cacing betina Necator americanus tiap hari mengeluarkan telur kira-kira 9000 butir. Cacing betina berukuran ± 1 cm, cacing jantan ± 0,8 cm. bentuk badan Necator americanus menyerupai huruf S, memiliki benda kitin, cacing jantan mempunyai bursa kopulatriks sedangkan Ancylostoma duodenale kira-kira mengeluarkan 10.000 butir telur, cacing betina berukuran 10 – 30 mm, cacing jantan 8 – 11 mm, mulutnya mempunyai 2 (dua) pasang gigi.
Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1 – 1,5 hari, keluarlah larva rabditiform. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup selama 7 – 8 minggu di tanah.
Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60 x 40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnyaterdapat beberapa sel. Larva rabditiform panjangnya kira-kira250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron.
Lingkaran hidup dimulai ketika cacing betina menghasilkan telur. Telur ini keluar bersama feaces penderita. Pada tanah yang basah telur menetas menjadi larva bentuk rabhditia, kemudian tumbuh menjadi bentuk filarial.
Larva bentuk filaria ini menembus kulit manusia yang tidak terlindungi, masuk kedalam aliran darah, sampai ke paru-paru, menembus dinding alveolus, naik ke saluran napas bagian atas sampai di epiglottis, pindah ke oesophagus kemudian tertelan, sampai di intestinum, menjadi dewasa dan cacing betinanya menghasilkan telur kemudian mengulangi siklus tadi. Infeksi cacing tambang mengakibatkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktivitas tetapi kekurangan darah ini biasanya tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak sebab.
Gambar 1 Gambar 2


Keterangan gambar :
Gambar 1 : Cacing dewasa Ancylostoma duodenale panjang ±1 cm, bentuk seperti huruf C, cacing betina berujung ekor lancip (bawah), cacing jantan berujung ekor lebar dengan bursa kopulatriks (atas).
Gambar 2 : Cacing dewasa Necator americanus bentuk seperti huruf S, cacing berujung ekor lancip (kiri), cacing jantan berujung ekor lebar dengan bursa kopulatriks (kanan).

4. Oxyuris vermicularis
Enterobius vermicularis telah diketahui sejak dahulu dan telah banyak dilakukan penelitian mengenai biologi, epidemiologi dan gejala klinisnya.
Manusia adalah satu-satunya hospes dan penyakitnya disebut enterobiasis atau oksiuriasis.
Parasit ini kosmopolit tetapi lebih banyak ditemukan di daerah dingin daripada di daerah panas. Hal ini mungkin disebabkan karena pada umumnya orang di daerah dingin jarang mandi dan mengganti baju dalam. Penyebaran cacing ini juga ditunjang oleh eratnya hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya serta lingkungannya yang sesuai.
Cacing betina berukuran 8 – 13 mm x 0,4 mm. pada ujung anteriornya ada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Bulbus esophagus jelas sekali, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur. Cacing jantan berukuran 2 – 5 mm, juga mempunyai sayap dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda Tanya (?); spikulum pada ekor jarang ditemukan. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum. Makanannya adalah isi dari usus.
Cacing betina yang gravid mengandung 11.000 – 15.000 butir telur, bermigrasi ke daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telur-telur jarang dikeluarkan di usus, sehingga jarang ditemukan di dalam tinja. Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetrik). Dinding telur bening dan agak lebih tebal dari dinding telur cacing tambang. Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu badan. Telur resisten terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.
Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kopulasi dan cacing betina mati setelah bertelur.
Infeksi cacing terjadi bila menelan telur matang, atau bila larva dari telur yang menetas di daerah perianal bermigrasi kembali ke usus besar. Bila telur matang yang tertelan, telur menetas di duodenum dan larva rabditiform berubah dua kali sebelum menjadi dewasa di jejunum dan bagian atas ileum.
Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya, mulai dari tertelannya telur matang sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah perianal, berlangsung kira-kira 2 minggu – 2 bulan. Mungkin daurnya kembali pada anus paling cepat kira-kira 1 bulan karena telur-telur cacing dapat ditemukan kembali pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan.
Infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri (self limited). Bila tidak ada reinfeksi, tanpa pengobatanpun infeksi dapat berakhir.
Telur berukuran 55 x 25 mikron, bentuk asimetris, dinding: rangkap dan transparan. Berisi larva infektif.







Gambar Oxyuris vermicularis




PRAKTIKUM VI
Tanggal/ hari : Kamis, 07 Mei 2009
Judul : Pemeriksaan Telur Cacing metode konsentrasi dengan cara sedimentasi
Tujuan : Untuk melihat tipe telur cacing pada kuku anak-anak
Dasar Teori :

- Enterobius vermicularis (Oxyuris vermicularis)
Enterobius vermicularis telah diketahui sejak dahulu dan telah banyak dilakukan penelitian mengenai biologi, epidemiologi dan gejala klinisnya.
Manusia adalah satu-satunya hospes dan penyakitnya disebut enterobiasis atau oksiuriasis.
Parasit ini kosmopolit tetapi lebih banyak ditemukan di daerah dingin daripada di daerah panas. Hal ini mungkin disebabkan karena pada umumnya orang di daerah dingin jarang mandi dan mengganti baju dalam. Penyebaran cacing ini juga ditunjang oleh eratnya hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya serta lingkungannya yang sesuai.
Cacing betina berukuran 8 – 13 mm x 0,4 mm. pada ujung anteriornya ada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Bulbus esophagus jelas sekali, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur. Cacing jantan berukuran 2 – 5 mm, juga mempunyai sayap dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda Tanya (?); spikulum pada ekor jarang ditemukan. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum. Makanannya adalah isi dari usus.
Cacing betina yang gravid mengandung 11.000 – 15.000 butir telur, bermigrasi ke daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telur-telur jarang dikeluarkan di usus, sehingga jarang ditemukan di dalam tinja. Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetrik). Dinding telur bening dan agak lebih tebal dari dinding telur cacing tambang. Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu badan. Telur resisten terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.
Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kopulasi dan cacing betina mati setelah bertelur.
Infeksi cacing terjadi bila menelan telur matang, atau bila larva dari telur yang menetas di daerah perianal bermigrasi kembali ke usus besar. Bila telur matang yang tertelan, telur menetas di duodenum dan larva rabditiform berubah dua kali sebelum menjadi dewasa di jejunum dan bagian atas ileum.
Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya, mulai dari tertelannya telur matang sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah perianal, berlangsung kira-kira 2 minggu – 2 bulan. Mungkin daurnya kembali pada anus paling cepat kira-kira 1 bulan karena telur-telur cacing dapat ditemukan kembali pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan.
Infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri (self limited). Bila tidak ada reinfeksi, tanpa pengobatanpun infeksi dapat berakhir.
Telur berukuran 55 x 25 mikron, bentuk asimetris, dinding: rangkap dan transparan. Berisi larva infektif.
Prinsip kerja : Dimana prinsip kerja dari sedimentasi itu sendiri adalah dengan menggunakan centrifuge, yang awalnya perendaman kuku anak-anak dengan aquadest, dimana massa aquadest lebih ringan dibandingkantelur cacing sehingga adanya pengendapan.

Alat :
• Mikroskop
• Objeck glass
• Deck glass
• Tabung centrifuge
• Centrifuge
• Pipet tetes

Bahan :
• Aquadest
• Kuku anak-anak & kotorannya
Cara kerja :
1. Siapkan alat dan bahan!
2. Masukkan aquadest yang digunakan untuk merendam kuku beserta kotorannya ke dalam tabung centrifuge, tetapi potongan kuku di angkat terlebih dahulu;
3. Setelah air kotoran kuku tersebut masuk ke dalam tabung centrifuge dan tambahkan aquadest secukupnya;
4. Setelah ditambahkan aquadest masukkan tabung centrifuge kedalam centrifuge, dan centrifuge selama 5 menit;
5. Setelah selesai, buang airnya dan endapannya dipipet dan teteskan pada objeck glass;
6. Amati di bawah mikroskop dengan lensa objektif 10x
Hasil pengamatan :
Pada pemeriksaan ini telah ditemukan telur cacing Oxyuris vermicularis.




Telur Oxyuris vermicularis
Kesimpulan :
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan telur cacing dengan menggunakan metode konsentrasi (sedimentasi) dengan sampel kuku anak-anak telah ditemukan telur Oxyuris vermicularis.

PRAKTIKUM VII
Tanggal/ hari : Kamis, 14 Mei 2009
Judul : Pemeriksaan Telur Cacing pada tanah lembab dengan metode sedimentasi
Tujuan : Untuk mengamati morfologi dan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya telur/larva pada sampel yang diperiksa
Dasar Teori :
- Necator americanus
Hospes dari parasit ini adalah manusia; cacing ini menyebabkan nekatoriasis. Penyebaran cacing ini diseluruh daerah khatulistiwa dan ditempat lain dengan keadaan yang sesuai, misalnya didaerah pertambangan dan perkebunan. Prevalensi di Indonesia tinggi, terutama di daerah pedesaan, sekitar 40%.
Cacing dewasa hidup di rongga usus halus, dengan mulut yang besar melekat pada mukosa dinding usus. Cacing betina Necator americanus tiap hari mengeluarkan telur kira-kira 9000 butir. Cacing betina berukuran ± 1 cm, cacing jantan ± 0,8 cm. bentuk badan Necator americanus menyerupai huruf S, memiliki benda kitin, cacing jantan mempunyai bursa kopulatriks.
Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1 – 1,5 hari, keluarlah larva rabditiform. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup selama 7 – 8 minggu di tanah.
Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60 x 40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnyaterdapat beberapa sel. Larva rabditiform panjangnya kira-kira250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron.
Lingkaran hidup dimulai ketika cacing betina menghasilkan telur. Telur ini keluar bersama feaces penderita. Pada tanah yang basah telur menetas menjadi larva bentuk rabhditia, kemudian tumbuh menjadi bentuk filarial.
Larva bentuk filarial ini menembus kulit manusia yang tidak terlindungi, masuk kedalam aliran darah, sampai ke paru-paru, menembus dinding alveolus, naik ke saluran napas bagian atas sampai di epiglottis, pindah ke oesophagus kemudian tertelan, sampai di intestinum, menjadi dewasa dan cacing betinanya menghasilkan telur kemudian mengulangi siklus tadi. Infeksi cacing tambang mengakibatkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktivitas tetapi kekurangan darah ini biasanya tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak sebab.
Metode pemeriksaan telur cacing :
Pemeriksaan telur cacing dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu cara langsung dan tidak langsung. Cara tidak langsung mempunyai 2 metode yaitu metode sedimentasi dan metode flotasi. Pada pemeriksaan telur cacing ini digunakan metode sedimetasi. Pada metode ini, sampel ditambahkan aquadest, lalu di centrifuge. Setelah itu endapan yang dihasilkan diperiksa dibawah mikroskop dengan pembesaran objektif 10x atau 40x.
Alat :

• Tabung centrifuge
• Centrifuge
• Objeck glass
• Deck glass
• Pipet tetes
• Mikroskop

Bahan :
• Tanah lembab
• Aquadest
Prinsip kerja : Massa aquades lebih ringan dibandingkan dengan massa telur cacing, sehingga terjadi endapan
Cara kerja :
1. Siapkan alat dan bahan
2. Campurkan sampel, dalam hal ini tanah lembab dengan aquadest
3. Aduk hingga betul-betul tercampur
4. Masukkan air campuran ke dalam tabung centrifuge
5. Centrifuge selama 15 menit
6. Setelah selesai di centrifuge tuang supernatantnya dan endapan yang tersisa dipipet kedalam objeck glass.
7. Periksa di bawah mikroskop dengan menggunakan pembesaran obejktif 10x atau 40x
Hasil pengamatan :
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, ditemukannya larva rabditiform Necator americanus dengan ciri-ciri Transparan/bening, ekor lancip.




Larva rabditiform Necator americanus
Kesimpulan :
Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan ini telah ditemukan larva rabditiform Necator americanus.

B. NEMATODA JARINGAN
Nematoda yang infeksinya di jaringan tubuh biasanya bersifat parasitic pula pada hewan, misalnya pada kucing dan anjing.

1) Wuchereria bancrofti dan Wuchereria malayi
Parasit ini tersebar luas di daerah yang beriklim tropis di seluruh di dunia dan terdapat di Indonesia.
Wuchereria bancrofti berukuran 80 – 100 mm pada cacing betinanya, sedangkan cacing jantannya berukuran 30 – 40 mm, sedangkan pada Wuchereria malayi cacing betinanya berukuran 50 – 55 mm, sedangkan cacing jantan panjangnya 22 -23 mm.
Wuchereria sp. Dalam siklus hidupnya memerlukan serangga (insect) sebagai host intermediate-nya. Cacing dewasa yang hidup di saluran getah bening, setelah kawin akan menghasilkan microfilaria (180 – 290 mikron) yang masuk kedalam aliran darah
Microfilaria ini akan masuk kedalam tubuh nyamuk, ketika nyamuk mengisap darah manusia dan berkembang lebih lanjut. Kemudian menembus dinding usus nyamuk dan berkumpul pada kelenjar ludah nyamuk. Bila nyamuk ini mengisap darah manusia lain, maka terjadi penulara. Microfilaria ini akan masuk ke pembuluh lympha dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
Nyamuk yang bertindak sebagai vector penyakit merangkap host intermediate-nya antara lain Culex fatigans, Aedes aegypti, Anopheles gambiae, Anopheles punctulatus, Anopheles farauti, dan Anopheles sundaicus.
2) Onchocerca volvulus
Cacing betina panjangnya 33-50 cm, sedangkan cacing jantan panjangnya 19-42 mm.
Cacing dewasanya hidup di dalam kulit jaringan subcutan. Onchocerciasis ditularkan oleh lalat penghisap darah, yaitu Simulim damnosum, Simulium metallicum dan Simullium neavei.
Siklus hidupnya dimulai ketika Simulim sp. Mengisap darah penderita yang mengandung microfilaria. Microfilaria dalam perkembangannya menembus dinding usus kemudian menempati bagian mulut dari Simulium sp. Selanjutnya, akan menular ke manusia bila lalat ini mengisap darah manusia lainnya
3) Brugia malayi dan Brugia timori
Brugia malayi dibagi dalam dua varian: yang hidup pada manusia dan yang hidup pada manusia dan hewan, misalnya kucing, kera dan lain-lain. Brugia timori hanya terdapat pada manusia. Penyakit yang disebabkan oleh Brugia malayi disebut filariasis malayi dan yang disebabkan oleh Brugia timori disebut filariasis timori. Kedua penyakit tersebut kadang-kadang disebut sebagai filariasis brugia.
Cacing dewasa jantan dan betina hidup disaluran dan pembuluh limfe. Bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. Yang betina berukuran 55 mm x 0,16 mm (Brugia malayi), 21-39 mm x 0,1 mm (Brugia timori) dan yang jantan 22 – 33 mm x 0,09 mm (Brugia malayi), 13 – 23 mm x 0,8 mm (Brugia timori)
Cacing betina mengeluarkan microfilaria yang bersarung. Ukuran microfilaria Brugia malayi adalah 200 – 260 mikron x 8 mikron dan Brugia timori 280 – 310 mikron x 7 mikron
Periodisitas microfilaria Brugia malayi adalah periodic nokturna, subperiodek nokturna, sedangkan Brugia timori mempunyai sifat periodic nokturna.
4) Dracunculus medinensis
Cacing betina panjangnya sekitar 1 meter, sedangkan cacing jantan panjangnya 12 – 40 mm
Cacing dewasanya hidup didalam jaringan ikat dan jaringan subcutan, penularan dapat terjadi bila orang minum air yang mengandung larvanya.
Bila cacing betina hamil, ia akan bergerak ke tempat jaringan subcutan, biasanya di daerah kaki. Pada tempat ini di mana ujung anterior cacing akan mencapai kulit, akan terjadi papula yang berubah menjadi vesicula dalam waktu 24 – 36 jam. Kemudian vesicula tersebut pecah dan bila bagian ini terkena air, uterus cacing akan keluar dari lubang kulit ini dan mengeluarkan sejumlah besar larva.
Ukuran panjang larva 500 – 700 mikron dan diameter 15 – 25 mikron. Untuk menjadi lengkapnya siklus cacing, larva ini harus bisa dimakan oleh sejenis crustacean. Didalam tubuh crustacean larva berkembang menjadi larva matang yang akan menular ke manusia bila crustacean tersebut di makan oleh manusia. Didalam jaringan ikat atau jaringan subcutan. Larva tadi akan berkembang menjadi cacing dewasa yang setelah terjadi perkawinan antara cacing jantan dan betina maka siklus hidup tadi akan diulangi lagi. Masa inkubasi antara 8 – 12 bulan.
5) Toxocara canis
Cacing dewasa panjangnya 6,5 – 10 cm. sedangkan cacing jantan panjangnya 4 – 6 cm.
Toxocara canis adalah cacing yang host utamanya adalah anjing. Tetapi dapat menular kepada manusia melalui makanan dan minuman yang mengandung telurnya.
Feaces anjing yang berada di sekitar manusia merupakan sumber terjadinya penyebaran penyakit karena mengandung telur cacing ini.

II. TREMATODA
Cacing dewasa umumnya berbentuk pipih, ada bagian ventral dan bagian dorsalnya. Beberapa species ada yang bentuknya agak bulat panjang, ada pula yang bagian anteriornya bulat panjang sedangkan bagian posteriornya pipih melebar.
Alat reproduksinya ada yang jelas terpisah antara cacing jantan dan betina, ada pula yang hermaprodit.
Telur cacing keluar tubuh manusia bisa bersama feaces (Fasciola, Clonorchis, Fasciolopsis, Schistosoma mansoni dan Schistosoma japonicum); urina (Schistosoma haematobium) atau melalui sputum (Paragonimus).
Di dalam air, telur yang menetas menjadi larva, dalam perkembangannya. Memerlukan sejenis mollusca (siput air tawar) sebagai intermediate host.
Sebagian besar trematoda memerlukan intermediate host kedua, dimana larvanya berkembang menjadi kista.
Echinostoma ilocanum memerlukan mollusca lain. Bila manusia memakan host intermediate kedua atau tanaman tempat kistanya berada. Dalam keadaan mentah atau kurang matang akan terjadi penularan penyakit dan siklus hidup cacing akan menjadi lengkap.
A. Trematoda darah
1. Schistosoma haematobium
Schistosoma haematobium menghuni system pembuluh vena di daerah pelvis dan vesica urinaria.
Telurnya meruncing seperti duri pada salah satu ujungnya dan keluar dari tubuh penderita, bersama urina. Didalam air tawar telurnya akan menetas menjadi miracidium kemudian masuk ketubuh siput dan berkembang mebjadi sporocyst yang selanjutnya keluar dari siput berupa cercaria. Siput yang merupakan host intermediatenya antara lain jenis Bulinus, Physopsis dan Biomphalaria.
Cacing jantan dewasa panjang ±1,3 cm, gemuk, testis 3 – 4 buah, canalis gynaecophorus, integument tuberculated halus. Betina, panjang ±2 cm, langsing, ovarium terletak pada pertengahan bagian posterior, terletak dalam canalis gynaecophorus cacing jantan.
Siklus hidup dimulai ketika cacing jantan dalam pembuluh darah vena. Selanjutnya, cacing jantan akan memegang cacing betina didalam saluran gynechoperalnya dan membawanya ke pembuluh vena yang lebih kecil di jaringan mesenterium. Pada Schistosoma haematobium akan membawanya kesistem pembuluh vena didaerah pelvis terutama di sekitar vesica urinaria dan cacing betina akan melepaskan diri dari jantannya dan menghasilkan telur. Telur-telur ini akan ditempatkan didalam kapiler pembuluh darah. Pada suatu saat ditempatkan di dalam kapiler pembuluh darah. Pada suatu saat telur ini akan dilepaskan kedalam lumen usus/vesica urinaria & keluar ditubuh bersama feaces atau urina.
Di dalam air, telur cacing akan menetas menjadi miracidium (embrio yang punya cilia). Miracidium ini akan berenang dan masuk kedalam siput tertentu untuk berkembang menjadi sporocyst. Setelah beberapa waktu tertentu. Sporocyst akan berkembang menjadi ratusan cercariae dan keluar dari siput selanjutnya menulari manusia melalui kulit yang tidak dilindungi.
2. Schistosoma japonicum
Sebagai reservoir dari Schistosoma japonicum adalah manusia, kerbau, kuda, ternak, babi, anjing, kucing dan tikus
Sebagai host intermediatenya adalah siput genus oncomelania misalnya, Oncomelania quadrasi, Oncomelania formosana.
Siklus hidup dimulai ketika cacing jantan membuahi cacing betina didalam pembuluh darah vena. Selanjutnya, cacing jantan akan memegang cacing betina didalam saluran gynechoperalnya dan membawanya ke pembuluh darah venayang lebih kecil dijaringan mesentrium. Pada Schistosoma japonicum akan membawanya ke system pembuluh vena didaerah pelvis terutama sekitar vesica urinaria dan cacing betina akan melepaskan diri dari jantannya dan menghasilkan telur. Telur-telur ini akan ditempatkan didalam kapiler pembuluh darah. Pada suatu saat telur ini akan dilepaskan kedalam lumen usus/vesica urinaria & keluar ditubuh bersama feaces atau urina.
Di dalam air, telur cacing akan menetas menjadi miracidium (embrio yang punya cilia). Miracidium ini akan berenang dan masuk kedalam siput tertentu untuk berkembang menjadi sporocyst. Setelah beberapa waktu tertentu. Sporocyst akan berkembang menjadi ratusan cercariae dan keluar dari siput selanjutnya menulari manusia melalui kulit yang tidak dilindungi.
3. Schistosoma mansoni
Cacing dewasa. Jantan panjangnya ±1 cm, gemuk, testis 8 – 9 buah, canalis gynaecophorus, integument bertonjolan (tuberculated kasar). Betina, panjang ± 1,4 cm, langsing, ovarium terletak pada bagian tengah anterior, terletak dalam canalis gynaechoporus cacing jantan.
Telur berukuran ±155 x 65 mikron, berduri besar di ujung lateral, berisi miracidium.
Siklus hidup dimulai ketika cacing jantan membuahi cacing betina didalam pembuluh darah vena. Selanjutnya, cacing jantan akan memegang cacing betina didalam saluran gynechoperalnya dan membawanya ke pembuluh darah venayang lebih kecil dijaringan mesentrium. Pada Schistosoma mansoni akan membawanya ke system pembuluh vena didaerah pelvis terutama sekitar vesica urinaria dan cacing betina akan melepaskan diri dari jantannya dan menghasilkan telur. Telur-telur ini akan ditempatkan didalam kapiler pembuluh darah. Pada suatu saat telur ini akan dilepaskan kedalam lumen usus/vesica urinaria & keluar ditubuh bersama feaces atau urina.
Di dalam air, telur cacing akan menetas menjadi miracidium (embrio yang punya cilia). Miracidium ini akan berenang dan masuk kedalam siput tertentu untuk berkembang menjadi sporocyst. Setelah beberapa waktu tertentu. Sporocyst akan berkembang menjadi ratusan cercariae dan keluar dari siput selanjutnya menulari manusia melalui kulit yang tidak dilindungi.
B. Trematoda Usus
A. Heterophyes heterophyes
Cacing dewasa Heterophyes heterophyes, ukuran ±1,3 mm memiliki batil isap kepala, batil isap perut yang besar, genital sucker, kelenjar vitelaria 1/3 posterior, ovarium bulat dan 2 testis bulat yang letaknya sebelah menyebelah.
Mirip dengan telur Clonorchis sinensis ukuran25 – 30 mikron. Bentuk lebih oval, operculum tidak tumpang tindih, warna kuning coklat gelap, kulit sedikit lebih tebal, tonjolan kecil berbentuk kutil pada bagian ujung yang lebih luas, namun tidak selalu Nampak, berisi suatu masa sel, kadang butiran besar yang menembus (tidak dibuahi) atau embrio bersilia (dibuahi)
Siklus hidup dimulai ketika telur cacing yang berasal dari feaces penderita, bila jatuh ke dalam air tawar akan menetas menjadi miracidium. Miracidium akan masuk kedalam siput dan berkembang menjadi sporocyst. Sporocyst akan berenang menjadi redia dan keluar dari siput dan menjadi cercaria. Cercaria akan menempel pada tanaman air atau masuk kebawah sisik ikan dan menjadi metacercaria (kista). Metacercaria bila termakan oleh definitive host, didalam intestinum akan berkembang menjadi larva dan melekat pada mukosa usus.
C.
III. CESTODA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar